Kentongan (Teknologi Komunikasi Masa Lalu)

Selasa, 09 Mei 2017

Administrator

Opini

Dibaca: 2768 kali

Kentongan merupakan wujud kecerdasan dan teknologi komunikasi yang paling cangih pada masanya, ketukan-ketukan kentongan memiliki makna yang hanya dipahami oleh masyarakat masa lalu Indonesia. Di Yogyakarta ketika masa kerajaan Majapahit, kentongan Kyai Gorobangsa sering digunakan sebagai pengumpul warga. Dengan kentongan pula terjadi interaksi yang disepakati bersama seluruh masyarakat. Dalam perkembangannya kentongan banyak terdapat di balai-balai padukuhan, kelurahan, masjid, gardu ronda dan bahkan setiap rumah masyarakat di Gunungkidul.

Kentongan sebagai alat komunikasi merupakan hasil berpikir manusia untuk meyikapi situasi dan gejolak dinamika sosial. Berbagai mitos kentongan bermunculan didalam masyarakat Gunungkidul mulai dari kentongan sebagai salah satu syarat mendapatkan amanah sebagai pamong desa sampai mitos kentongan sebagai pengusir pulung gantung, mitos pengusir bencana dan lain sebagainya.

Lebih dari itu kentongan adalah salah satu alat musik tradisional, melalui suara yang dikeluarkan dipadu padankan dengan alat musik lainnya, kentongan mampu berharmoni sehingga menciptakan irama yang merdu untuk didengarkan. Nilai-nilai sosial kentongan sebagai alat bantu komunikasi perlahan-lahan mulai tergeser oleh jaman.

Produk teknologi Informasi berupa HP, Internet, dan lain sebagainya merupakan produk kemajuan jaman yang memang nyata mampu mengantikan posisi kentongan sebagai salah satu media komunikasi dengan tidak terbatas jarak dan waktu. Namun demikian seluruh produk alat bantu komunikasi saat ini mengandalkan sumber energi listrik sebagai dan gelombang frekuwensi agar dapat berfungsi dengan baik. 

Pada saat tertentu sumber-sumber energi tersebut akan mengalami kepunahan akibat eksplorasi energi berlarut-larut, transaksi frekuwensi dan gelombang komunikasi juga tidak terkendali, fungsi-fungsi kontrol pengendalian terhadap kecangihan teknologi tidak terbendung lagi. Harmoni kecangihan teknologi terhadap kearifan lokal dan budaya masyarakat terdapat ktimpangan yang begitu jauh. Sehingga mempengaruhi pola interaksi sosial dan norma yang ada didalam masyarakat. Terbukti apatisme mulai berkembang di masyarakat perdesaan, gotong royong dan diskusi dibangun melalui grup-grup on line, persepsi komunikasi visual yang ada tergantikan dengan persepsi komunikasi berbasis Text.

Kentongan adalah media pemersatu masyarakat, alat bantu komunikasi yang perlu dilestarikan keberadaanya. Alat yang ramah lingkungan dan tidak memiliki dampak negatif sosial namun cenderung mampu meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam wadah toleransi dan gotong royong.

Berita Terkait

    Komentar via Facebook

    Kembali ke atas