Statistik bukan Matematika, harus ramah terhadap dinamika sosial

Rabu, 31 Oktober 2018

Hari Susanto

Informasi

Dibaca: 152 kali

Gunungkidul - Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Bupati Gunungkidul, Dr. Immawan Wahyudi, MH dalam membuka acara  paparan akhir Analisis Kemiskinan Kabupaten Gunungkidul yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kabuapaten Gunungkidul bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunungkidul di Hotel Cyka Raya, Wonosari (30/10/2018). " Statistik bukan matematika, sehingga penentuan angka kemiskinan dengan statistik melalui survey Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dapat dilakukan dengan statistik yang ramah terhadap dinamika sosial bukan rumus yang kaku", tegas Immawan.

Immawan menambahkan keberadaan Sistem Informasi Desa (SID) yang telah menjangkau semua desa di wilayah Kabupaten Gunungkidul, dengan berbagai macam fungsi dan feature aplikasi tersebut dapat dioptimalkan untuk update data kemiskinan melalui program Basis Data Terpadu (BDT) yang telah ada pada Sistem Informasi Desa (SID).

"Kolaborasi dan koordinasi antar OPD terutama Diskominfo dengan Bappeda, diperlukan dalam dalam rangka update Basis Data Terpadu", katanya.

Pada kesempatan ini dilaksanakan paparan akhir analisis angka kemiskinan Kabupaten Gunungkidul oleh tim BPS Kabupaten Gunungkidul yg dipimpin Drs. Sumarwiyanto,  Kepala BPS yang dipandu oleh Kepala Bidang Persandian dan Statistik Dinas Kominfo, Joko Hardiyanto, SP, M.Eng.

Kabid Persandian dan Statistik menyampaikan bahwa pekerjaan ini merupakan kegiatan Swakelola yang dikerjakan oleh BPS Kabupaten Gunungkidul dan dibiayai oleh APBD melalui DPA Dinas Kominfo Kabupaten Gunungkidul.

Tim BPS Kabupaten Gunungkidul dalam paparannya menyampaikan bahwa distribusi pendapatan merupakan salah satu aspek kemiskinan yang perlu dilihat karena merupakan ukuran kemiskinan relatif. Tim mengatakan bahwa data pendapatan sulit diperoleh, sehingga pengukuran distribusi pendapatan didekati dengan menggunakan data pengeluaran. Ukuran yang menggambarkan ketidakmerataan pendapatan antara lain adalah koefisien Gini (Gini Ratio) dan Ukuran Bank Dunia.

Dalam paparan akhir, Tim dari BPS Gunungkidul, Paulus, menyampaikan kondisi kemiskinan yang ada di Kabupaten Gunungkidul diukur menggunakan garis kemiskinan. Jika dibandingkan dengan daerah di sekitarnya, Garis kemiskinan di Kabupaten Gunungkidul relatif tidak setinggi Kabupaten Klaten, Bantul, Sukoharjo, Kulonprogo dan Wonogiri dari tahun ke tahun. Hanya Kabupaten Pacitan yang garis kemiskinannya ada di bawah Kabupaten Gunungkidul.

Hadir pada kegiatan ini Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Gunungkidul, Sekretaris Dinas Kominfo dengan jajaran serta perwakilan OPD yang terkait dengan penanggulangan kemiskinan di Gunungkidul. (tim_kominfo*)



Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas